Tampilkan postingan dengan label Bimbingan Konseling. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bimbingan Konseling. Tampilkan semua postingan

Kamis, 08 Mei 2014

Tinjauan Tentang Bakat



1.      Pengertian Bakat
Bakat adalah mereka yang oleh orang-orang profesional diidentifikasi sebagai anak yang mampu mencapai prestasi yang tinggi karena mempunyai kemampuan-kemampuan yang unggul. Anak-anak tersebut memerlukan program pendidikan yang berdiferensiasi dan/atau pelayanan di luar jangkauan program sekolah biasa agar dapat merealisasikan sumbangan mereka terhadap masyarakat maupun untuk pengembangan diri sendiri.[1]

Tinjauan Tentang Layanan Penempatan dan Penyaluran



1.      Pengertian Layanan Penempatan dan Penyaluran
Layanan penempatan adalah usaha-usaha membantu siswa merencanakan masa depannya selama masih di sekolah dan madrasah dan sesudah tamat, memilih program studi lanjutan sebagai persiapan untuk kelak memangku jabatan tertentu.[1]

Tinjauan Tentang BK Pola 17




1.      Pengertian BK Pola 17
Pola umum bimbingan konseling di sekolah sering disebut dengan “BK Pola 17”. Disebut BK Pola 17 karena di dalamnya terdapat 17 (tujuh belas) butir pokok yang amat perlu diperhatikan dalam penyelenggaraan bimbingan konseling di sekolah.[1]
Pola bimbingan dan konseling pola 17 adalah progam bimbingan dan konseling / pemberian bantuan kepada peserta didik melalui, 4 bidang bimbingan, 7 layanan, dan 5 layanan pendukung yang sesuai dengan norma yang berlaku.

Prinsip dan Asas Bimbingan Konseling



Bimbingan dan konseling harus didasarkan pada prinsip non diskrimatif, kontektualitas, integralitas dan kemandirian. Keempat prinsipini harus menjadi landasan bagi gerak langkah penyelenggaraan kegiatan bimbingan dan konseling di sekolah.[1] Prinsip-prinsip ini berkaitan dengan tujuan, sasaran layanan, jenis layanan dan kegiatan pendukung, serta berbagai aspek oprasionalisasi pelayanan bimbingan dan konseling. Prinsip-prinsip tersebut adalah:

Tujuan dan Fungsi Bimbingan dan Konseling



Secara umum tujuan BK adalah memandirikan peserta didik dan mengembangkan potensi mereka secara optimal. Tujuan umum tersebut kemudian diarahkan pada kompetensi tertentu.[1] Secara lebih spesifik tujuan pelayanan BK dapat dirinci sebagai berikut: (1) merencanakan kegiatan penyelesaian studi, pengembangan karir serta kehidupan peserta didik di masa yang akan datang; (2) mengembangkan seluruh potensi dan kekuatan yang dimiliki peserta didik seoptimal mungkin; (3) menyesuaikan diri dengan lingkungan pendidikan dan lingkungan masyarakat; (4) mengetahui hambatan dan kesulitan yang dihadapi peserta didik dalam studi, penyesuaian dengan lingkungan pendidikan dan masyarakat.[2]

Pengertian Bimbingan dan Konseling




Secara harfiah bimbingan dapat disepadankan dengan istilah guidance. Berasal dari kata guide, guidance kemudian memiliki arti yang sangat beragam, yakni: to direct pilot, or street (menunjukkan, menentukan, mengatur, atau mengemudi).[1] Secara bahasa guidance disebut dengan guiding, kemudian memiliki konotasi makna showing a way (menunjukkan jalan), leading (memimpin), conduction (menuntun), giving instruction (memberikan petunjuk), regulation (mengatur), governing (mengarahkan), dan giving advice (memberikan nasehat).[2]

Landasan Hukum dan Sejarah Bimbingan dan Konseling



Bimbingan dan konseling dalam pendidikan nasional sudah ada sejak tahun 1960. Gagasan tentang konseling sudah dikemukakan dalam konferensi Fakultas Keguruan dan ilmu Pendidikan di Malang pada 20-24 Agustus 1960. Hasil dari konferensi tersebut menjadi embrio bagi lahirnya Jurusan Bimbingan dan Penyuluhan di IKIP Malang dan IKIP Bandung pada tahun 1964. Tahun 1971 lahirlah Proyek Perintis Sekolah Pembangunan (PPSP) di delapan IKIP di Indonesia yakni IKIP Padang, IKIP Jakarta, IKIP Bandung, IKIP Yogyakarta, IKIP Semarang, IKIP Surabaya, IKIP Malang, dan IKIP Menado. Melalui proyek inilah program bimbingan dan penyuluhan dikembangkan. Melalui proyek ini juga berhasil disusun “Pola Dasar Rencana dan Pengembangan Penyuluhan”. Lahirnya kurikulum 1975 untuk Sekolah Menengah Atas yang didalamnya memuat pedoman bimbingan dan penyuluhan.[1]

Sabtu, 15 Juni 2013

Konseling Realitas




Dalam kehidupan kita, realita selalu dikaitkan dengan kenyataan. Pendekatan Realistis dikembangkan oleh William Glasser, seorang psikolog dari California. Istilah Reality ialah suatu standar atau patokan obyektif, yang menjadi kenyataan atau realitas yang harus diterima. Realitas atau kenyataan itu dapat berwujud suatu realitas praktis, realitas sosial, atau realitas moral. Sesuai dengan pandangan behavioristik, yang terutama disoroti pada seseorang adalah tingkah lakunya yang nyata.

Rational Emotive Behaviour Teraphy




Istilah Rational-Emotive Behavior Therapy sukar diganti dengan istilah bahasa indonesia yang mengena: Paling-paling dapat dideskripsikan dengan mengatakan: Corak konseling yang menekankan kebersamaan dan interaksi antara berfikir dan akal sehat (Rational Thingking), Berperasaan (emotion), dan berperilaku (acting), Serta sekaligus menekankan bahwa suatu perubahan yang mendalam dalam cara berfikir dapat menghasilkan perubahan yang berarti dalam cara berperasaan dan berperilaku. Pendekatan Rational-Emotive Behavior Therapy (REBT) adalah pendekatan behavior kognitif yang menekankan pada keterkaitan antara perasaan, tingkah laku dan pikiran. pendekatan  Rational-Emotive Behavior Therapy (REBT) di kembangkan oleh Albert Ellis melalui beberapa tahapan. pandanagan dasar pendekatan ini tentang manusia adalah bahwa individu memiliki tendensi untuk berpikir irasional yang salah satunya didapat melalui belajar social. Di samping itu, individu juga memiliki kapasitas untuk belajar kembali untuk berpikir rasional. pendekatan ini bertujuan untuk mengajak individu mengubah pikiran-pikiran irasionalnya ke pikiran yang rasional melalui teori ABCDE.

Behaviorisme




Pendekatan behavioristik dalam psikoterapi, adalah salah satu dari beberapa “revolusi” dalam dunia pengetahuan psikologi, khususnya psikoterapi. Pendekatan behavioristik yang dewasa ini banyak depergunakan dalam rangka melakukan kegiatan psikoterapi dalam arti luas atau konseling dalam arti sempitnya, bersumber pada aliran behaviorisme. Aliran ini pada mulanya tumbuh subur di amerika dengan tokohnya yang terkenal ekstrim, yakni john broadus watson, suatu aliran yang menitik beratkan peranan lingkungan, peranan dunia luar sebagai faktor penting di mana seseorang dipengaruhi, seseorang belajar. Pada abad ke-17, dunia pengetahuan filsafat ditandai oleh dua kubu besar yakni kubu “empiricism” (physical science) dan kubu “naturalism” (biological science). Pada akhir abad yang lalu, mempengaruhi lahirnya aliran behaviorisme dengan pendekatan-pendekatannya yang kemudian menjadi terkenal dengan terapi perilaku (behavior therapy) dan perubahan perilaku (behavior modification).

Psikoanalisis

           Psikoanalisis adalah sebuah model perkembangan kepribadian, filsafat tentang sifat manusia, dan metode psikoterapi, berorientasi untuk berusaha  membantu  individu mengatasi ketegangan psikis  yang bersumber  pada  rasa  cemas dan rasa terancam yang berlebih-lebihan  (anxiety). Menurut pandangan  Freud, setiap  manusia didorong oleh kekuatan-kekuatan irasional di dalam dirinya sendiri, oleh motif-motif yang tidak disadari dan oleh kebutuhan-kebutuhan  alamiah yang  bersifat biologis dan naluri.

Client Center



 
BAB I
PENDAHULUAN

   1.1  Latar Belakang Masalah
Carl Rogers mengembangkan terapi Konseling Berpusat Pada Pribadi (client-centered) sebagai reaksi terhadap apa yang disebutnya keterbatasan-keterbatasan mendasar dari psikoanalisis. Pada hakikatnya, pendekatan client-centered adalah cabang khusus dari terapi humanistik yang menggaris bawahi tindakan mengalami klien berikut dunia subjektif dan fenomenanya.

Laporan Penelitian Kolektif






IMPLEMENTASI KONSELING BEHAVIORAL DALAM MENANGGULANGI PERILAKU MENYIMPANG SISWA
KELAS X DI SMK PGRI 1 SURABAYA

LAPORAN PENELITIAN
Disusun Guna Memenuhi Tugas Mata Kuliah
“PENELITIAN KOLEKTIF”

Bedanya Psikoanalisa, Client Center, Behavioral, Rasional dan REBT



Selasa, 20 November 2012

Perilaku Terlambat, Kurang Sopan, Dan Berkata Kotor



BAB I
PENDAHULUAN

    A.    LATAR BELAKANG
Bimbingan Konseling atau sering disebut sebagai BP dahulu sering kali menjadi momok atau bahkan sesuatu yang dibenci oleh siswa karena lebih berfungsi sebagai pengadilan siswa dari pada membimbing siswa. Jika ada siswa yang bermasalah melanggar aturan sekolah maka langsung dipanggil guru BP untuk dilakukan pembinaan yang cenderung ke arah penghakiman. Paradigma itu semestinya perlu sedikit diubah yaitu bahwa Bimbingan Konseling tidak hanya mengurusi anak yang bermasalah melanggar aturan sekolah namun juga harus bisa berfungsi sebagai teman bagi siswa dan pelajar hingga bisa menjadi tempat curhat. Bimbingan konseling semestinya bisa memberikan rasa nyaman kepada siswa dengan dapat memberikan banyak solusi terhadap masalah-masalah yang dihadapi siswa baik stres masalah pelajaran, keluarga, pertemanan dan lain sebagainya. Perubahan paradigma ini diharapkan kenakalan maupun stress dikalangan siswa bisa semakin dieliminir.
Sebagai sarana untuk mencari solusi, fungsi BK cukup efisien. Melalui pendekatan personal, harapannya siswa dapat lebih terbuka dengan pemasalahannya, sehingga pembimbing dapat memahami dan mendapat gambaran secara jelas apa yang sedang dihadapi siswa. Menghentikan sepenuhnya kebiasaan terlambat, kurang sopan dan berkata kotor memang tidaklah mudah dan sangatlah minim kemungkinannya. Tetapi usaha untuk meminimalisisir kebiasaan tidak baik tersebut tentu ada.

    B.     RUMUSAN MASALAH
    1)      Apa yang dimaksud dengan perilaku terlambat, kurang sopan dan berkata kotor?
    2)      Apa penyebab munculnya perilaku terlambat, kurang sopan dan berkata kotor?
    3)      Bagaimana langkah-langkah bimbingan yang ditempuh?
    4)      Bagaimana usaha konseling individu dan kelompok?

Laporan Penelitian BK Individu dan Kelompok di SMKN 6 Surabaya



BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Mengacu pada peraturan pemerintah No. 29/1990 tentang pendidikan menengah. Setiap manusia pada dasarnya memerlukan bimbingan sejak kecil untuk mempersiapkan masa dewasanya kelak supaya dapat diterima oleh lingkungan tempat tinggalnya. Masyarakat dengan bimbingan yang benar akan berjalan baik dan terarah. Begitu juga kepada para pelajar. Seperti kita telah ketahui bahwa bimbingan merupakan proses tuntunan, arahan secara terencana dan terus menerus terhadap peserta didik untuk menuju kedewasan atau kematangan mampu memecahkan masalah-masalah problem yang dihadapi guna mencapai kesejahteraan hidupnya.
Bimbingan pada dasarnya adalah upaya pengoptimalan individu yang dilakukan oleh pembimbing.[1] Bimbingan merupakan proses pemberian bantuan yang dilakukan oleh seorang ahli kepada seorang atau beberapa individu, agar orang yang dibimbing dapat mengembangkan kemampuan dirinya sendiri dan mandiri.[2] Bimbingan yang diberikan di lingkungan pendidikan merupakan pemberian bantuan kepada seluruh peserta didik yang dilakukan secara terus menerus agar peserta didik dapat menemukan penyelesaian untuk setiap permasalahannya. Setidaknya peserta didik akan mulai memahami dirinya sendiri, lingkungan dimana dia tinggal, serta mengetahui tugas-tugasnya sehingga peserta didik mampu mengarahkan diri, menyesuaikan diri, serta bertindak wajar sesuai dengan keadaan dan tuntutan lembaga pendidikan, lingkungan keluarga dan masyarakat, serta lingkungan kerja yang akan dimasukinya kelak.[3]
Konseling adalah hubungan pribadi yang dilakukan secara tatap muka antara dua orang yakni antara konselor dengan konseli (klien). Dalam hal ini konseli dibantu untuk memahami diri sendiri, keadaannya sekarang, dan kemungkinan keadaannya masa depan yang dapat ia ciptakan dengan menggunakan potensi yang dimilikinya, demi untuk mencapai kesejahteraan pribadi maupun masyarakat. Lebih lanjut konseli dapat belajar bagaimana memecahkan masalah-masalah dan menemukan kebutuhan-kebutuhan yang akan datang.[4]
Jadi Bimbingan Konseling adalah Proses pemberian bimbingan yang dilakukan oleh seorang pembimbing dalam hal ini bisa kita katakan sebagai konselor kepada klien yang membutuhkan bantuan atau bimbingan, yang selanjutnya kita sebut  sebagai konseli. [5] Atau secara garis besar bisa diartikan sebagai proses pemberian bantuan yang dilakukan melalui wawancara konseling (face to face) oleh seorang ahli (disebut konselor) kepada individu yang sedang mengalami sesuatu masalah (disebut konseli) yang bermuara pada teratasinya masalah yang dihadapi konseli serta dapat memanfaatkan berbagai potensi yang dimiliki dan sarana yang ada, sehingga individu atau kelompok individu itu dapat memahami dirinya sendiri untuk mencapai perkembangan yang optimal, mandiri serta dapat merencanakan masa depan yang lebih baik untuk mencapai kesejahteraan hidup.

Menunjukkan Perilaku Mencari Perhatian



PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Dunia pendidikan mengartikan  kesulitan belajar sebagai segala usaha yang dilakukan untuk memahami dan menetapkan jenis dan sifat kesulitan belajar. Juga mempelajari faktor-faktor yang menyebabkan kesulitan belajar serta cara menetapkan dan kemungkinan mengatasinya, baik secara kuratif (penyembuhan) maupun secara preventif (pencegahan) berdasarkan data dan informasi yang seobyektif mungkin.
Kegiatan belajar adalah proses penanaman konsep dalam benak murid untuk mengetahui, mengamati , dan memahami suatu masaalah. Dalam proses belajar mengajar sering kali muncul masalah-masalah yang dihadapi oleh murid. Baik itu masalah pribadi, sosial, pendidikan, keluarga ataupun masalah-masalah dalam kesulitan belajar. Sehingga diperlukan pendampingan kepada murid yang mengalami masalah Pendampingan itu  adalah Bimbingan konseling. Layanan ini  membantu murid untuk memecahakan masalah-masalah yang dihadapinya tersebut. Dalam kegiatan pembelajaran di sekolah, kita dihadapkan dengan sejumlah karakterisktik siswa yang beraneka ragam. Ada siswa yang dapat menempuh kegiatan belajarnya secara lancar dan berhasil tanpa mengalami kesulitan, namun di sisi lain tidak sedikit pula siswa yang justru dalam belajarnya mengalami berbagai kesulitan. Kesulitan belajar siswa ditunjukkan oleh adanya hambatan-hambatan tertentu untuk mencapai hasil belajar, dan dapat bersifat psikologis, sosiologis, maupun fisiologis, sehingga pada akhirnya dapat menyebabkan prestasi belajar yang dicapainya berada di bawah semestinya.

Bimbingan Konseling Siswa Berkebiasaan Buruk, Mengantuk, Bermain Atau Sibuk Sendiri



BAB I
PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang
Dalam kegiatan pembelajaran, siswa dan guru haruslah memili interaksi yang dekat dengan satu dan yang lainnya, apabila salah satu komponen tersebut tidak berjalan dengan baik, maka proses pembelajaran tentu terganggu. Maka Bimbingan Konseling Belajar disini amat perlu diperhatikan. Tak dapat dipungkiri bahwa terkadang kebiasaan buruk siswa amat mengganggu jalannya proses pembelajaran, misanya mengantuk, bermain atau sibuk sendiri dalam kelas tentu membuat strategi yang dipakai guru ketika mengajar menjadi tidak efektif. Untuk itu kami menulis makalah dengan judul Bimbingan konseling siswa berkebiasaan buruk; mengantuk, bermain atau sibuk sendiri sebagai bahan dan tambahan informasi bagi penulis dan bagi pembaca.
           B.  Rumusan Masalah
1.      Bagaimanakah deskripsi dari mengantuk, bermain atau sibuk sendiri dalam kelas?
2.      Apakah sebab-sebab terjadinya mengantuk, bermain atau sibuk sendiri dalam kelas?
3.      Bagaimanakah langkah-langkah bimbingan yang di tempuh?
4.      Bagaimanakah usaha konseling kelompok dan individu?

Anak Introvert



BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang

Tipe-tipe kepribadian telah banyak berkembang dalam banyak teori pengelompokkan. Salah satunya adalah pengelompokkan kepribadian introvert dan ekstrovert.
Introvert adalah sebuah sifat dan karakter yang cenderung menyendiri. Mereka adalah pribadi yang tertutup dan mengesampingkan kehidupan sosial yang terlalu acak. Antonim dari sifat Introvert adalah Ekstrovert. Sifat Ekstrovert lebih membutuhkan sosial, cahaya, kebisingan, ruang lingkup yang luas dan sebagainya. Sedangkan Introvert lebih membutuhkan sebuah teh hangat dan berkumpul bersama beberapa teman dekat saja daripada pergi ke tempat yang penuh dengan orang asing. Introvert membenci basa-basi, oleh sebab itu mereka senang dengan perbincangan yang padat dan bersifat informatif.


B.       Rumusan Masalah
1.         Apa pengertian introvert?
2.         Bagaimana ciri kepribadian seorang Introvert?
3.         Apa saja kesalahpahaman umum mengenai kepribadian seorang introvert?
4.         Apa kelebihan dan kekurangan seorang yang berkepribadian introvert?

Senin, 08 Oktober 2012

Perkembangan Jiwa Keagamaan Pada Manusia



     A.    Latar Belakang

            Manusia adalah  makhluk yang ekploratif dan potensial. Dikatakan makhluk eksploratif, karena manusia memiliki kemampuan untuk mengembangkan diri baik secara fisik maupun psikis. Manusia di sebut makhluk potensial karena pada manusia tesimpan sejumlah kemampuan bawan yang dapat di kembangkan.
            Selanjutnya, manusia juga disebut sebagai makhluk yang memiliki prinsip tanpa daya, karena untuk tumbuh dan berkembang secara normal manusia memerlukan bantuan luar dirinya. Bantuan dimaksud antara lain dalam bentuk bimbingan dan pengarahan dari lingkungannya. Bimbingan dan arahan yang di berikan dalam membantu perkembangan tersebut pada hakikatnya di harapkan sejalan dengan kebutuhan manusia itu sendiri, yang sudah tersimpan sebagai potensi bawaannya.

Template by:

Free Blog Templates